• Cougar

    Cougar

  • Lions

    Lions

  • Snowalker

    Snowalker

  • Howling

    Howling

  • Sunbathing

    Sunbathing

Selasa, 02 Desember 2014

APA ITU DIABETES?

Diabetes melitus, menurut yang tertulis wikipedia, adalah Diabetes berarti pancuran air dalam bahasa yunani dan mellitus berarti rasa manis. Sedang di Indonesia diterjemahkan sebagai kencing manis, yaitu kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:


  • defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya.
  • defisiensi transporter glukosa.
  • atau keduanya.

Banyak penyakit lanjutan yang dapat dipicu oleh diabetes melitus, antara lain: Alzheimer, ataxia-telangiectasia, sindrom Down, penyakit Huntington, kelainan mitokondria, distrofi miotonis, penyakit Parkinson, sindrom Prader-Willi, sindrom Werner, sindrom Wolfram, leukoaraiosis, demensia, hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipogonadisme, dan lain-lain.

Pada tahun 2013, Indonesia memiliki sekitar 8,5 juta penderita Diabetes yang merupakan jumlah ke-empat terbanyak di Asia dan nomor-7 di dunia. Dan pada tahun 2020, diperkirakan Indonesia akan memiliki 12 Juta penderita diabetes, karena yang mulai terkena diabetes semakin muda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus berdasarkan perawatan dan simtoma:
  • Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes melitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.
  • Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin
  • Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan gestational diabetes mellitus, GDM.
dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:
  • Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
  • Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
  • Not insulin requiring diabetes.
secara sederhana bisa dipahami dengan cara sebagai berikut 
  • DM tipe I biasanya menimbulkan gejala sebelum usia pasien 30 tahun, walaupun gejala dapat muncul kapan saja. Pasien DM tipe I memerlukan insulin dari luar tubuhnya untuk kelangsungan hidupnya.
  • DM tipe II biasanya dialami saat pasien berusia 30 tahun atau lebih, dan pasien tidak tergantung dengan insulin dari luar tubuh, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu. 
  • DM gestasional, yakni DM yang terjadi pada ibu hamil, yang disebabkan oleh gangguan toleransi glukosa pada pasien tersebut.

Faktor risiko untuk DM tipe II antara lain: genetik, lingkungan, usia tua, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, riwayat DM gestasional, serta ras atau etnis tertentu.
Gejala DM tipe II antara lain:
  • rasa haus yang berlebih,
  • buang air kecil lebih sering (frekuensi terbangun dari tidur untuk berkemih saat malam hari menjadi lebih sering dari biasanya),
  • banyak makan,
  • penurunan berat badan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas

    lalu bagaimana mengetahui jika kita mengidap diabetes?
    --- bersambung---

Read More »

Jumat, 14 November 2014

MEMBACA HASIL LAB KITA

"Test lab dulu ya", sering dengar kata-kata itu diucapkan dokter? bagi yang sakit dan pergi ke dokter untuk berobat, seringkali kita juga diminta untuk pergi ke laboratorium untk dicek. kemudian kita mendapat beberapa lembar kertas berisi angka-angka ataupun gambar yang kita tidak mengerti.

membaca tes lab untuk hidup sehat

Setelah dari laboratorium, kita biasanya diminta kembali ke dokter. "lembar didalam amplop ini tolong sisampaikan ke dokter ya", demikian umumnya pesan dari petugas lab. Pernahkan kita ingin tahu apa isi dari hasil test lab tersebut sebelum disampaikan ke dokter? kecenderungannya demikian, kita penasaran dengan hasilnya, karena ini menyangkut tubuh kita.

Hasil test laboraturium sebenarnya merupakan pendukung pemeriksaan oleh dokter agar diperoleh gambaran kondisi kesehatan si pasien. Dari lembaran hasil test yang berisi angka-angka itulah dokter menerjemahkannya. Lalu bagaimana dengan kita, perlukah kita juga paham dengan hasil test tersebut? Perlu, karena ini menyangkut hajat hidup kita.

Ada berbagai parameter yang dapat di test oleh laboraturium, misalnya Hb (hemoglobin), trombosit, HMT (hematokrit), Leukosit, LDH, SGOT, dll. yang masing-masing ada angka rujukan standartnya, tergantung alat yang dipakai.
Sekedar untuk mengetahuinya, nilai normal dari parameter tersebut diatas akan dipost pada tulisan selanjutnya.

--bersambung---
Read More »

TULISAN TERKAIT